buku; sepotong cinta untuk ibu

100_4851Ada suatu masa, di mana Anda harus membuat keputusan. Ada suatu zaman, di mana Anda harus meninggalkan apa yang selama ini Anda rintis. Juga ada suatu keadaan, di mana Anda harus “berani” mengambil jalan yang Anda yakini. Bahkan ada suatu momen, di mana Anda harus “berhenti melangkah” tetapi selanjutnya melompat lebih jauh ke depan. Masa, zaman, moment dan keadaan itulah yang kini sedang melilit di pinggangku. Aku pun –mau tidak mau– harus melompat ke depan, meninggalkan apa yang selama ini aku gumuli untuk menyambut sinar mentari yang akan terbit esok hari

Kini, keputusan itu sudah aku buat! Kini, aku sudah melompat meskipun baru di tepi jurang yang menganga lebar. Kini, aku sudah menikam moment yang bisa membuatku berhenti melangkah tetapi aku tidak duduk di atas batu besar yang menentramkan. Kini aku hidup di “sebuah masa” di mana aku tidak lagi masih menghuni kepompong lama; aku ingin menulis genre lain dalam bentuk novel ataupun skenario.

Sebulan ini, boleh dikata aku nyaris tak menulis resensi. Jika masih menulis resensi, itu pun tak lain hanya memenuhi pesanan dan permintaan dari beberapa teman. Dengan keputusan ini, aku meninggalkan meja resensi dan kemudian beralih sekolah. Aku sebut “peralihan” karena memang mirip jenjang di sekolah. Aku sudah lulus. Tidak ada lagi tantangan di depanku. Maka mau tidak mau, aku harus melanjutkan sekolah –mencoba menekuni genre lain.

Malam ini, waktu aku menulis catatan ini, aku ditikam kesunyian. Aku sendiri dalam remang kegalauan yang runyam bahkan mendebarkan. Dalam debar malam, ternyata ada satu momen yang membuat aku teringat masa kecilku, dan terkenang masa remaja yang nakal -di mana aku tak pernah menyangka bisa seperti sekarang ini. Aku tersedak tatkala mengingat masa laluku. Aku bertanya-tanya, apakah dulu ibu melahirkanku untuk satu harapan bahwa kelak aku akan menjadi penulis?

Ah, sebenarnya bukan soal itu yang ingin aku tanyakan pada ibuku. Aku ingin bertanya pada ibu tentang satu hal terkait dengan masa laluku setelah aku ingat bahwa pada hari ini adalah hari ulang tahunku. Maka, aku telpon ibu, lalu bertanya satu hal, “Ibu, benarkah ibu dulu melahirkanku pada tanggal yang sama di mana hari ini aku masih bisa menghirup udara?”

Ibuku terdiam. Mungkin, ibu mengingat masa-masa ketika beliau harus berjuang sampai darah titik penghabisan. Lama. Waktu seperti dihimpit senyap. Kami diam seperti tidak saling kenal atau tidak pernah berjumpa. “Anakku, kenapa kamu tanyakan hal itu?” tanya ibuku dengan suara bergetar. “Nak, aku lupa kapan kamu lahir, tapi satu hal yang tidak akan pernah aku lupakan bahwa aku tidak lupa mencintaimu sepanjang hidupku!”

Deggg! Jantungku seperti disambar petir. Mungkin aku salah bertanya pada ibuku yang sudah dimakan usia, dan tidak peduli dengan sakralitas ulang tahun –apalagi di tengah keluargaku tidak ada “adat yang disebut merayakan ulang tahun”. Seketika, aku berpikir; jika ibu telah menuliskan perasaan cinta sepanjang hidunya dalam tetesan hujan, lalu apa yang bisa aku balas?

Hampir lima tahun bekerja dan setiap kali dapat gaji, aku sisihkan buat ibu. Tapi, apakah semua itu cukup untuk membayar cinta ibuku? Aku pikir, sampai meninggal pun aku tidak akan pernah sanggup membayar jerih payah ibuku. Maka malam ini aku memutuskan untuk memberikan “sebuah kenangan untuk membalas ibu sesuai dengan kemampuanku; aku ingin menulis untuk ibuku sebagai bentuk terima kasihku sebagai penulis. Tak ada yang lain!

Keputusan ini aku ambil, ketika aku berada dalam suatu tempat yang sunyi, sepi dan bahkan sendirian “merenungi ulang tahunku”. Di saat aku berjuang menyelasaikan tulisan ini, tiba-tiba hp-ku berdering. Aku tahu, siapa yang menelponku malam ini –ia adalah perempuan yang pernah aku cintai delapan tahun yang lalu. Dalam hening itu, ia mengucapkan selamat ulang tahun. Aku pikir ia sudah lupa padaku. Eh, ternyata ia masih ingat bahkan ingat ulang tahunku. Lebih dari itu, ia memintaku untuk menemui ayahnya jika aku benar-benar ingin menikahinya. Aku tidak memungkiri jika dia telah banyak memberiku inspirasi dalam menulis. Memang tidak sedikit perempuan yang memberiku inspirasi dalam menulis, tetapi ia menduduki tempat yang istimewa.

Sehabis dia menelpon, aku menyalakan lilin -sebuah lilin kehidupan yang tidak akan pernah aku tiup sepanjang masa. Sebuah lilin yang aku tahu akan jadi energi besar dalam proses kreatifku ke depan. ***

Kado buat ulang tahunku
Ciputat, 30 Februari 2009


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?

6 Responses to “buku; sepotong cinta untuk ibu”


  1. 1 anny 8 April 2009 at 13:05

    Cerita yang mengharukan.

  2. 2 pengamencinta 10 April 2009 at 21:11

    Lilin kehidupan… hanya akan padam jika ditiup oleh-Nya. Salam kenal Nur Mursidi…

  3. 3 nurmursidi 10 April 2009 at 23:47

    @ anny: thanks
    @ pengamencinta: salam kenal juga

  4. 4 josir 14 April 2009 at 08:34

    gak kalah seru tuh ama pemenang utama…siplah…selamat yah..keep writing..

  5. 5 nurmursidi 14 April 2009 at 10:17

    @ josir; thanks. salam kenal, bung….

  1. 1 “Say It With Blog” Writing Contest, Ini Dia Pemenangnya! Trackback on 8 April 2009 at 11:02

Leave a Reply