The Capture: Guardians of Ga Hoole #1

guardians-of-gahoole2

resensi ini dimuat di Jawa Pos, Minggu 10 Oktober 2010

Judul: The Capture: Guardians of Ga`Hoole #1
Penulis : Kathryn Lasky
Penerjemah : T. Dewi Wulansari
Penerbit : Kubika, Jakarta
Cetakan : Pertama, 2010
Tebal : 338 halaman
Harga: 42.500,- (diskon 25%) = 31.875,00.

BURUNG hantu (owl) memiliki kehidupan yang unik. Ia tidak saja memiliki bentuk wajah yang berbeda dengan jenis burung biasa, tapi juga dalam berperilaku. Burung satu ini tergolong spesies burung nokturnal (beraktivitas di malam hari), pemalu bahkan susah ditemukan. Ia juga dianugerahi katajaman mata sehingga dapat melihat dan mengintai mangsa dari jarak yang sangat jauh. Kesan burung hantu yang hidup di malam hari itulah yang membuat spesies burung ini disebut-sebut sebagai jenis binatang yang menyeramkan: sebagai lambang burung yang jahat.

Tapi kesan itu tidak sepenuhnya benar. Dalam kepercayaan orang Yunani, burung ini justru dilambangkan sebagai burung kebijaksanaan dan memiliki sifat menolong. Setidaknya, sisi kebijaksanaan dan penolong dari burung hantu itulah yang diwakili tokoh Soren (burung hantu Barn), Gylfie (burung hantu peri), Twilight (burung hantu kelabu besar) dan Digger (burung hantu Liang) yang siap menjadi burung-burung hantu ksatria untuk memanggul tugas mulia –mengikuti jejak ksatria burung hantu di zaman Glaux (seperti dikisahkan dalam legenda Ga`Hoole) yang terbang di malam hari untuk menegakkan keadilan dan kebenaran.

Motivasi Soren untuk memanggul tugas mulia itu, tak lepas dari kemalangan hidup yang pernah ia jalani. Saat baru berumur tiga minggu dan belum bisa terbang, ia terjatuh dari sangkar. Ia pun mengalami nasib naas. Sebab tidak lama kemudian, patroli St. Aegolius menculiknya, dan ia dibawa ke sebuah jurang atau tebing –tempat ribuan anak-anak burung hantu diculik. Di tempat yang disebut sebagai “sekolah untuk burung hantu yatim piatu” itu, Soren dan ribuan anak-anak burung hantu dididik dengan keras: tak diperkenankan untuk bertanya, dipaksa untuk bekerja, bahkan berbaris dan tidur di bawah sinar rembulan agar mengalami pembingungan.

Tak mustahil, jika efek dari peraturan itu menjadikan burung-burung hantu kecil itu bermata hampa, serupa mayat berjalan. Tapi Soren yang kemudian bersahabat dengan Gylfie tahu tipu muslihat mereka. Maka, Soren dan Gylfie yang cerdas berusaha menahan kantuk agar tak tidur di bawah sinar rembulan. Untuk bertahan dari tidur, Soren bercerita –pada Gylfie- tentang legenda Ga`Hoole sampai bulan menghilang. Akibatnya, keduanya “tidak mengalami pembingungan”. Tetapi, siksaan itu belum seberapa karena pada saat tertentu, sayap dan bulu anak-anak burung hantu itu digunduli agar tidak bisa terbang.

Setelah melakukan pengamatan dan tahu apa yang terjadi di St. Anggie, keduanya sadar: St. Anggie dibangun untuk misi rahasia dengan tujuan jahat. Patroli St Aegolius menculik -anakanak burung hantu untuk tujuan menguasai seluruh kerajaan burung hantu. Keduanya sadar segala sesuatu di St Anggie terbalik. Maka, Soren dan Gylfie berjuang untuk tidak bingung dan tetap berdiri tegak: selanjutnya, berusaha lolos dari sergapan mereka. Beruntung, keduanya kemudian bertemu dengan Hortense –burung hantu bintik– yang juga berjuang menyelamatkan telur-telur burung hantu dari hutan kerajaan Ambala yang dicuri Patroli St Aegolius. Tapi belum sempat Soren-Gylfie berhasil lolos, Hortense terbunuh akibat ketahuan menyelamatkan telur burung hantu.

Soren dan Gylfie yang cerdik kemudian meminta bantuan Grimble (burung hantu boreal). Grimble (yang ditahan oleh patroli St Aegolius sebagai sandra dengan jaminan tak akan diganggu keluarganya) pun siap membantu dan bahkan mengajari Soren dan Gylfie cara terbang. Bantuan dan pertolongan Grimble ternyata tak sia-sia. Soren dan Gylfie akhirnya bisa terbang dan lepas dari sekapan tersebut, meski Grimble harus menebus dengan nyawanya –karena dibunuh Skench (burung hantu bertanduk yang menjadi jenderal Ablah St. Aegolius).

Tetapi setelah Soren dan Gylfie berhasil kabur dari St Aegolius, bukan berarti semua selesai. Keduanya masih harus mencari keluarganya. Pencarian keduanya itulah yang menjadikan kedua burung hantu itu kemudian berpetualang. Apalagi, setelah bebas keduanya bertemu Twilight dan Digger. Pelarian dari St Aegolius juga menjadi titik awal untuk tugas mulia selanjutnya yang lebih berat lagi: melawan kejahatan patroli St Aegolius di bawah kekuasaan Skench.

Meski novel fantasi ini tergolong kisah fabel: dengan tokoh-tokoh burung hantu (juga dua burung elang dan seekor ular buta), tetapi buku ini ditulis dengan serius dan bahkan ditunjang penelitian yang mendalam. Semula, memang pengarang melakukan penelitian burung hantu dengan mendalami perilaku mereka: apa yang mereka makan, bagaimana mereka terbang, membuat sarang dan sebagainya untuk menulis buku non-fiksi. Tetapi saat pengarang yang kini tinggal di Cambridge (Missachusetts) ini hendak menulis buku non-fiksi, ia sadar bahwa buku yang akan dia tulis itu tidaklah mudah. Akhirnya, ia menulis kehidupan burung hantu dalam novel (fantasi).

Meski demikian, pengarang bisa menghidupkan tokoh-tokoh burung hantu dalam novel ini dengan gemilang. Apalagi novel ini dilengkapi dengan sekelumit sejarah, perilaku, karakter dan jenis-jenis burung hantu. Alhasil, novel ini pun menjadi “sebuah bacaan yang memikat”. Kelebihan lain, Kathryn Lasky –yang telah menulis banyak buku, fiksi dan non-fiksi di antaranya: Interupted Journey: Saving Endangered Sea Turtles dan The Night Journey: Beyond the Burning Time dan mendapat sejumlah penghargaan– mampu menulis kisah tentang kehidupan burung hantu dengan menawan, memikat meski ditulis dengan “bahasa yang sederhana”.

Tapi kesan sederhana itu tak sepenuhnya menjadikan novel ini tidak berbobot. Karena Lasky mampu mengubah kehidupan burung hantu menjadi cerita yang unik, menarik dan menawan. Juga, ia bisa bercerita dengan lancar. Setiap jeda dari penggalan kisah dilingkupi dengan suspense sehingga meninggalkan kesan penasaran di benak pembaca. Rasanya, tidak dapat berhenti membaca jika belum sampai pada akhir halaman. Semua kelebihan itulah, yang mengantarkan novel ini kemudian diangkat ke layar lebar dengan judul Legenda of The Guardians: The Owl of Ga`Hoole.

*) N. Mursidi, cerpenis dan owner toko buku online www.etalasebuku.com

Elegi Bendera Kecil di Atap Rumah

bendera_2 Empat belas Agustus, dua puluh empat tahun yang lalu. Usiaku masih sembilan tahun. Aku masih ingat, tatkala itu, aku masih duduk di bangku kelas 4 Sekolah Dasar. Tapi prahara bendera mungil yang sempat berkibar sebentar di atap rumahku itu seperti terjadi kemarin sore. Kibar bendera mungil yang kujahit dengan susah payah ketika aku kecil itu masih terpatri kuat dalam ingatanku. Aku sedih menatap bendera kecil itu tidak lagi berkibar di atas rumah, setelah ayah ditikam marah.

Siang itu cakrawala kulihat berwarna kelabu, serupa warna sendu relung hatiku. Aku pulang dari sekolah dengan langkah lunglai, memakai sepatu dengan tali yang kusut dan berdebu. Aku terus melangkah, dahaga menggaruk tenggorakanku. Gang sempit ke arah rumahku lengang, dan aku ingin cepat sampai ke rumah. Tapi aku seperti digelayuti lelah untuk berlari.

Tidak tampak anak-anak kecil berseragam sekolah merah putih bermain di gang sempit itu, kecuali aku seorang diri –yang sedang berjalan pulang dengan galau. Tetapi, entah mengapa, siang itu kelengangan gang ke rumahku seperti berbeda. Angin berisik seperti mengabarkan kemerdekaan yang pernah diukir para pejuang di zaman dulu. Aku merasakan hembusan ruh pahlawan menelusup di sela-sela dedaunan tanaman di depan rumah tetangga-tetanggaku yang tampak sahdu.

Aku terus melangkah, dan sesekali mengamati setiap rumah yang aku lewati. Aku lihat tiang-tiang tertancap di depan rumah dan di setiap tiang itu bendera merah putih berkibaran diterpa angin yang bertiup sahdu. Sesekali, angin bertiup kencang membuat setiap bendera yang ada di depan rumah tetanggaku berkibar menawan.

Tapi tiba-tiba aku merasa heran, ada setangkup perasaan ganjil yang menelusup diam-diam dan gamang dalam hatiku tatkala aku sudah berdiri tepat di depan rumahku. Seperti ada yang hilang dari sesap ganjil mataku. Tak kulihat tiang bendera tertancam di depan rumah. Tidak ada sang saka merah putih berkibar di tiang bambu yang biasa ayah tancamkan di depan rumah.

Siang itu, aku seperti berdiri di depan rumahku yang asing. Aku seperti berdiri di depan rumah orang luar yang tak kena peraturan untuk memasang bendera selama satu minggu sampai hari proklamasi kemerdekaan. Sejenak, aku menatap sekeliling. Tak ada rumah tetanggaku yang tidak memasang bendera merah putih kecuali rumahku. Rumah yang tampak sepi dan beku, lantaran tidak ada kibar sang saka merah putih di hari menjelang kemerdekaan bangsaku.

Penghormatanku pada para pahlawan yang gugur di medan perang sebagaimana cerita yang pernah aku dengar dari guru sejarah-ku, seperti menyeretku pada kesedihan. Aku merasa seperti anak orang Belanda yang sedang bertandang ke kampungku sendiri, tak seperti seorang anak Sekolah Dasar yang pulang dari sekolah dengan seragam merah putih.

Kakiku gemetaran, saat aku kembali melihat setiap rumah tetanggaku dan kibar sang saka merah putih di setiap rumah serasa meluruhkan jiwaku. Langkah kakiku kaku. Aku ditikam kerinduan untuk mengingat masa lalu, mengingat para pejuang dulu ketika mereka berperang melawan penjajah.

Aku bergegas memasuki rumah, langsung menerabas ke dapur. Di rumah hanya ada nenek yang termangu di dapur menanak nasi. Diam-diam, aku mengambil gelas dan melangkah dengan kaki gemetar. “Kau sudah pulang?” tanya nenek saat melihatku.

“Anak-anak dipulangkan lebih pagi dari biasa karena besok anak-anak berangkat kemah, nek…” jawabku seraya menuang air putih dari baskom.

Setelah segelas air putih meluruhkan tenggorokanku, aku memasuki ruang kerja ayah. Kulihat kain berserakan di lantai, di bawah mesin jahit tua ayah –yang terongggok membisu. Siang itu, ayah dan ibu kebetulan belum pulang masih di pasar menjual segala jenis pakaian yang sebagian ayah jahit sendiri, termasuk bendera.

Tak pernah ayah mengajariku menjahit, membuatku ditikam bingung. Apa yang harus kulakukan untuk merajut kain merah putih itu agar bisa menjadi sebuah bendera? Berdiri serupa patung, tiba-tiba sekelebat bayangan ayah yang sedang menjahit sepulang dari pasar seakan memberiku pelajaran tidak langsung. Tak ingin ayah pulang dan tahu apa yang aku lakukan, buru-buru aku pungut kain merah dan putih yang berserak yang kutahu; kain itu sisa dari potongan bendera yang dijahit ayah kemarin sore.

Setelah aku pilih-pilih, aku temukan dua lembar kain merah-putih yang nyaris seukuran. Selanjutnya, untuk membuat kedua kain merah putih itu jadi sama seukuran, kuraih gunting yang tergeletak di sisi lengan mesin jahit. Kupotong sisi kain merah yang berukuran lebih besar. Lalu, aku duduk di kursi mesin jahit.

Sial, benang yang biasanya terpasang di lubang jarum ternyata lepas. Terpaksa, aku memasukkan ujung benang ke lubang jarum. Awalnya, kesulitan. Tetapi setelah tiga kali bersusah payah memasukkan jarum ke lubang, aku dapat bernapas panjang. Benang terpasang, dua lembar kain merah dan putih yang sudah kupotong seukuran sudah siap untuk dijahit.

Entah dapat ilmu menjahit dari mana, aku seperti merasa ada tangan ghaib yang menuntun tanganku tiba-tiba menjadi cekatan. Dua kain merah putih berukuran kecil itu kujahit, lalu bagian ujung kain kurekatkan untuk merapikan bentuk bendera. Setelah aku menjahit tiga tali sebagai pengait untuk diikatkan pada bambu, betapa senangnya hatiku ketika menatap bendera kecil seukuran 30 x 17 cm itu sudah siap aku kibarkan.
***

AKU tahu apa yang kulakukan terhadap bendera kecilku itu sebelum ayah pulang dari pasar. Kembali aku melangkah ke dapur. Aku lihat nenek masih menunggu tungku dengan diam. Gagang sapu yang terkulai di sudut dapur, kusambar diam-diam. Untung, nenek tak melihatku. Dengan langkah bersijingkat aku melangkah ke depan rumah. Tapi sial. Aku lupa mengambil parang.

Buru-buru, aku kembali ke dapur. Aku ambil parang yang terletak tak jauh dari tempat nenek merunduk tepat di depan kompor.

“Untuk apa parang itu?“ tanya nenek mengagetkanku.

“Untuk memotong gagang sapu yang tak berguna, nek,” kilahku, “Ini untuk tugas besok sebelum berangkat kemah,” lanjutku berbohong.

“Hati-hati, parang itu bisa melukai tangamu!”

“Tak usah takut nek, aku sudah besar dan tahu cara menggunakan parang yang benar,” sombongku seraya melangkah ke depan rumah.

Sampai di depan rumah, parang itu aku tebaskan pada gagang sapu serat kelapa. Gagang sapu itu putus dengan sempurna. Cepat-cepat aku ikatkan tali bendera kecilku di gagang bekas sapu itu. Aku lalu mengambil tangga di sebelah rumah, dan aku pasang di sisi rumah agar aku bisa naik ke atap rumah. Setelah aku naik ke atap rumah, kuikatkan gagang sapu itu di sebuah kayu. Aku tak ingin benderaku yang kecil itu tidak berkibar di antara bendera-bendera yang lain dari milik tetangga kecuali benderaku nanti berkibar dan terpasang paling tinggi.

Tak butuh waktu lama, bendera kecilku itu sudah terpasang di atap rumah. Saat angin bertiup dengan kencang, aku tahu, benderaku berkibar mirip sebuah layar yang terikat pada tiang kapal. Aku buru-buru turun dari atap rumah, dengan perasaan bangga sebab telah mengibarkan bendera menjelang hari kemerdekaan. Aku turun dengan cepat lantaran takut ayah keburu datang.

Sesampai di bawah, aku kemudian mendongakkan kepala ke atap rumah. Kulihat bendera kecilku mulai berkibar diterpa angin, dan aku menghormat –seakan melakukan sebuah upacara seorang diri.

Tepat di saat aku baru saja menurunkan tanganku memberi penghormatan pada sang saka kecilku, nenek memanggilku. Dia memintaku untuk segera makan siang. Aku masih ingat, siang itu aku makan dengan lahap.
***

SORE itu, aku terbangun dari tidur siangku yang cukup panjang. Aku mendengar ayah dan ibu bertengkar, tetapi aku tidak tahu apa yang mereka ributkan. Aku lirik jam dinding di kamarku. Pukul 15.30 WIB.

Aku masih belum sadar penuh. Lamat–lamat kudengar ayah seperti dibakar api amarah. “Itulah anakmu yang selama ini kau manjakan! Setiap kali aku memarahinya, kau membela. Sekarang mau kutaruh di mana mukaku ini!” bentak ayah pada ibuku.

“Dia masih kecil, tak tahu apa-apa! Itu pun salahmu sendiri, kenapa kau tak mau masang bendera menjelang hari kemerdekaan padahal kau sendiri menjahit dan jualan bendera… ” bela ibuku.

“Tetapi kalau anakmu itu tidak memasang bendera di atap rumah, tidak mungkin aku dipanggil pak lurah dan dimarahi seperti tadi,” ujar ayah.

Ibu hanya diam.

“Kau tahu, apa kata pak lurah padaku?” tanya ayah pada ibu, “Aku dianggapnya tak bisa mendidik anak…”

“Harusnya kau bilang, anak kita masih kecil dan tidak tahu apa-apa..” bela ibu

“Sudah kubilang seperti itu,” tangkis ayah “Justru karena itulah pak lurah punya bahan untuk menganggapku sebagai ayah yang tidak becus mendidik anak…”

Aku bangkit, dan keluar dari kamar. Aku merasa semua itu ada sangkut pautnya denganku, sehingga aku ingin tahu lebih jauh. Tetapi, betapa hatiku langsung ciut ketika ayah memandang ke arahku. Mata ayah seperti menyala merah, dan seumur hidupku tak pernah kulihat mata ayah merah seperti itu. “Anak kurang ajar,” bentak ayah kepadaku,

Aku diam, tak berkata-kata. Aku lihat ayah memegang bendera mungilku dengan masih utuh sebagaimana aku tadi mengikatkannya pada gagang sapu yang kupotong.

Jantungku berdegup kencang. Tetapi, langkah kakiku ingin membuktikan sendiri apa yang sedang terjadi. Aku melangkah ke depan rumah. Aku dongakkan kepalaku. Tak ada bendera kecil yang tadi berkibar tinggi di antara bendera milik tetanggaku.

Air mataku menitik. Aku kemudian melangkah ke dalam rumah. Aku berjalan ke arah ibuku berdiri, tepat di sisi ayah. Aku tahu, ayah hendak memarahiku. Tetapi, buru-buru ibu mendekapku.

“Kau tidak salah, anakku! Tadi memang pak lurah marah pada ayahmu gara-gara kau memasang bendera kecil di atap rumah. Tetapi, tindakanmu itu menjadi salah sebab ayahmu tak memasang bendera besar sebagaimana tetangga yang lain. Jadinya, ayahmu dikira telah menghina pak Lurah, sebab tidak memasang bendera besar… Besok, tolong jangan diulangi lagi…” ucap ibuku seraya mengelus-elus rambutku.

Sore itu, hatiku serasa damai dan jiwaku serasa dibelai oleh alunan cinta seorang ibu yang penuh perhatian. “Apa yang membuatmu tiba-tiba memasang bendera kecil itu di atap rumah, nak?” tanya ibu membuatku terperanjak.

Mulutku seperti terekam oleh lem. Aku tak bisa angkat bicara.

Tetapi, entah mengapa, tiba-tiba mulutku ingin bicara dan akhirnya keluar suatu hal yang tak pernah aku duga, “Bunda, apa anak kecil tidak boleh mengibarkan bendera kecil di atap rumah untuk menghormati kemerdekaan dengan caranya sendiri?”

Ibu melirik ke arah ayah. Ayah pun melirik ke arah ibu. Aku tak akan pernah bisa melupakan peristiwa itu, peristiwa yang terjadi dua puluh empat tahun yang lalu. ***

Ciputat, 31 Agustus 2009

Pengalaman (Pahit) Pertama Mengirim Tulisan Lewat Email

100_4295_2Teknologi internet diciptakan untuk satu tujuan; agar aktivitas hidup bisa dijalani dengan mudah. Tidak terkecuali keberadaan email (elektronik mail). Sebelum ada email, seseorang berkorespondensi memakan waktu cukup lama bahkan bisa berminggu-minggu, apalagi jika “perangko” yang dijadikan ongkos kirim itu tidak menggunakan perangko khusus. Tidak mustahil, jika hal itu membutuhkan kesabaran.

Tetapi, e-mail hadir untuk memangkas waktu lama yang dibutuhkan dalam pengiriman jasa pos hanya dalam hitungan detik. Dengan email, orang bisa mengirim surat –bisa berupa tulisan atau teks yang disertai gambar– dalam waktu cepat bahkan tidak membutuhkan kertas dan perangko, melainkan cukup mengetik melalui keyboad dan setelah dikirim, dalam hitungan detik sampai ke tempat tujuan meski jarak yang dikirimi email itu cukup jauh bahkan beda negara. Email pun kemudian menjadi sarana pengiriman surat yang paling murah dan tercepat di dunia.

Tapi bagi pengguna internet pemula dalam memanfaatkan jasa email, tak jarang menyisakan kenangan dan pengalaman pahit –yang mungkin tak akan terlupakan sampai kapan pun. Itulah pengalaman dan kenangan pertama yang aku alami ketika menggunakan email dalam pengiriman tulisan ke sejumlah media massa. Awal mula jadi penulis lepas di sejumlah media (pada tahun 1996), aku menggunakan jasa pengiriman lewat pos. Tetapi menginjak tahun 2000, hampir sebagian besar media massa tidak mau lagi menerima tulisan yang dikirim penulis dari luar menggunakan jasa pos mengingat pihak media nantinya mengetik ulang. Pendek kata, media (baca: sekretaris redaksi) menghendaki penulis lepas mengirim tulisan lewat email. Selain agar bisa cepat diterima juga pihak redaksi tidak perlu kerja dua kali untuk mengetik ulang.

Tiga Bulan Gigit Jari
Permintaan untuk mengirim tulisan lewat email itu, mau tak mau harus aku ikuti. Apalagi dari segi finasial aku merasa diuntungkan. Ada dua keuntungan yang aku dapatkan dengan pengiriman tulisan lewat e-mail itu. Pertama, tulisan yang aku kirim bisa cepat sampai hanya dalam waktu hitungan detik. Karena cepat sampai ke redaksi, tak mustahil kalau tulisanku dapat dimuat lebih cepat –jika dibandingkan dengan dikirim lewat pos. Kedua, lebih hemat biaya karena aku tak perlu membeli perangko, dan kertas. Maka, dengan bantuan seorang teman aku pun membuat email –karena waktu itu aku masih gagap teknologi.

Sayang, bayangan manis untuk dapat merengkuh keuntungan dengan fasilitas mengirim tulisan lewat email itu tak seperti yang aku harapkan. Tiga bulan pertama waktu aku mengirim tulisan lewat email itu, ternyata membuatku harus menelan pil pahit. Entah nyasar ke mana email yang aku kirim, yang jelas dalam rentang waktu tiga bulan pertama mengirim tulisan lewat email itu tidak membuahkan hasil. Aku hanya bisa gigit jari. Tidak satu pun tulisanku yang dimuat. Aku digelayuti bingung, hatiku resah dan jiwaku dicekam amarah.

Bagaimana bisa tulisanku tidak ada yang dimuat dalam rentang waktu tiga bulan? Padahal, di bulan-bulan sebelumnya aku selalu menjumpai tulisanku dimuat di media sekitar dua sampai empat tulisan. Lantas, nyasar ke mana tulisan yang aku kirim ke email redaksi itu? Apa pihak redaksi atau redaktur memang tidak menerima tulisan yang aku kirim lewat email itu?

Di tengah suasana kebingungan itu, akhirnya aku melakukan penelusuran. Usut punya usut, tulisan yang aku kirim lewat email, ternyata sebagian besar tak sampai ke meja redaksi. Hal itu aku ketahui setelah aku tanyakan ke redaktur bersangkutan. Hampir sebagian besar dari mereka mengatakan tak menerima tulisan yang aku kirim lewat email.

Ada dua hal yang membuat tulisanku tidak sampai ke meja redaktur. Pertama, di pihak redaksi juga belum ada koordinasi yang solid antara redaktur dengan sekretaris redaksi. Tak salah, tulisanku tak sampai ke meja redaksi. Hal itu bisa dimaklumi karena pengiriman lewat e-mail semacam itu masih “tergolong” baru dan butuh kerja sama antar-pihak, terutama pihak sekretaris redaksi dan redaktur. Bisa jadi, tulisanku terselip di antara tumpukan email yang masuk ke redaksi dan tidak sempat terbaca.

Kedua, tidak sedikit tulisan yang aku kirim ke email redaksi itu ternyata tidak terkirim, karena kesalahan kecil yang aku lakukan –aku salah menulis alamat email. Jadinya, tulisan yang aku kirim itu tidak sampai ke redaksi karena memang tidak terkirim semata-mata karena kesalahan atau kegagapanku dalam memanfaatkan teknologi internet.

Kesalahan Menuai Pengetahuan
Dua peristiwa itu, memang sempat membuatku “disergap” kecewa, marah dan hampir patah arang. Maklum, selama tiga bulan itu aku dirundung duka, tak dapat penghasilan dari menulis. Tak ada honor yang masuk ke rekeningku. Tapi, penjelasan redaktur pada satu pihak dan kesalahan yang telah kuperbuat itu, membuatku sadar bahwa kesalahan ternyata bisa menjadi pengalaman atau guru yang bisa berguna di kemudian hari. Apalagi, dengan kesalahan itu tidak sedikit redaktur media massa kemudian menyarakan kepadaku untuk mengirim tulisan langsung ke email mereka dan tidak perlu melewati pintu email redaksi.

Buah manis dari sebuah kesalahan akibat kejadian pahit itu sekarang bisa aku petik dengan gemilang. Sekarang, aku tak lagi dibuat pusing dan pening tujuh keliling, karena fasilitas email telah memberikan kemudahan dalam pengiriman tulisan. Aku tidak perlu lagi ngeprint tulisan, pergi ke kantor pos beli perangko untuk jasa pengiriman tulisan bahkan menunggu lama untuk memastikan apakah tulisanku itu sudah sampai ke meja redaksi atau belum? Karena fasilitas email telah memangkas rute berbelit itu dengan cepat dan mudah. Hal itu berbeda dengan masa-masa pengiriman tulisan lewat pos lantaran tak ada uang untuk membeli perangko, dulu tidak jarang tulisanku harus mengendap di komputer atau di meja kerjaku.

Kini pengalaman dan kenangan pahit sewaktu mengirim tulisan lewat email itu sudah berlalu. Sekarang, tulisanku dengan cepat bisa sampai ke tempat tujuan bahkan bisa cepat dimuat. Pernah, hanya dalam waktu dua hari tulisanku sudah dimuat.

Sebagaimana diungkapkan Collin Powell, “Tak ada rahasia untuk menggapai sukses. Sukses itu dapat terjadi karena persiapan, kerja keras dan mau belajar dari kegagalan (bahkan kesalahan).” Dari pengalaman (pahit) pertama mengirim tulisan lewat email itu, aku sadar; bahwa sebuah kesalahan bukanlah satu hal yang tak bisa dipetik sebagai pelajaran cukup berharga, melainkan dari kesalahan itu kita bisa belajar untuk membenahi diri dan kemudian bisa menggenggam wawasan dan pengetahun. ***

cerita untuk Fitri
Ciputat, 25 Juli 2009

Perceraian; Meski Halal Tak Lantas Jadi Gampang

2_dsc_05221(sumber: majalah Anggun edisi 6 Juni 2009)

Islam dengan tegas menggarisbawahi, bahwa perceraian adalah sesuatu yang halal. Kendati halal -sebagaimana disabdakan oleh nabi- ternyata Allah membencinya. Tapi kenapa sesuatu yang “mengundang kebencian” Allah itu –di zaman sekarang ini– seperti mudah dan gampang terjadi, apalgi di kalangan artis dan selebritis seakan-akan perceraian dianggap sebagai langkah dan solusi terbaik untuk mengakhiri konflik dalam kehidupan berumah tangga?

Mungkin tak lagi menjadi sebuah rahasia umum, terutama di kalangan artis, jika perceraian sudah seperti mainan. Padahal, saat dulu digelar upacara pernikahan, “ikrar akad nikah” yang digelar dengan meriah dan calon suami dan istri mengucapkan janji suci untuk sehidup-semati terlihat khitmad dan sakral. Tetapi di kemudian hari, ikatan suci itu anehnya mudah dirusak dan dikhianati.

Ironisnya lagi, “perceraian” yang sebenarnya merupakan sesuatu yang dibenci Allah, dan sepatutnya menjadikan artis dirundung malu, justru diumbar besar-besaran ke hadapan publik. Bahkan ada artis yang bangga dengan perceraian itu. Selepas sidang, dengan enteng dan tanpa beban, si artis menunjukkan perasaan senang di hadapan wartawan padahal ucapan itu didengar banyak pemirsa dalam tayangan infotainment.

Pintu Darurat
Akad pernikahan, dalam ajaran agama Islam (juga ajaran agama-agama lain) sedari awal dibangun sebagai ikatan langgeng dan suci yang harus dipertahankan dan dipegang dengan teguh, yang hanya dipisahkan oleh berakhirnya hidup dari salah satu pasangan (suami istri). Karena itu, bangunan “rumah tangga yang damai, sejahtera dan harmonis” adalah tujuan utama yang sejak awal didambakan, dan senantiasi dipelihara dan selalu diupayakan untuk terwujud.

Memang, untuk membangun pernikahan itu bisa bahagia, penuh tabur cahaya dan bunga-bunga sakinah (ketentraman), mawaddah (cinta), rahmah (kasih sayang) tidak disangsikan lagi dibutuhkan kerjasama dan sikap saling tolong menolong antara suami dan istri. Sepasang suami-istri itu, dalam ajaran Islam bahkan diibaratkan seperti pakaian yang saling melengkapi dan menutupi. Tak salah, jika aib dalam rumah tangga harus dijaga dengan baik agar tak mencuat ke khalayak umum. Karena itu, dibutuhkan sikap dan perlakuan baik dari suami maupun istri dan kerelaan saling menghargai serta tahu akan kewajiban dan hak masing-masing pihak.

Tapi hidup dengan menyatukan dua jenis kelamin, latar belakang, karakter, sifat dan prinsip yang berbeda itu, memang tak gampang. Karena itulah, hanya ikatan yang kukuh dan janji untuk terus memegang komitmen dan tanggung jawab masing-masing pasangan akan menjadi poin penting yang akan menjadikan pernikahan langgeng dan abadi. Dengan kata lain, dua orang lawan jenis yang berikrar menikah diikat janji suci untuk saling setia, dan tidak mengkhianati.

Berkaitan dengan ikatan pernikahan itu, Allah SWT menyebut sebagai ikatan dan perjanjian yang amat kukuh (mitsaq ghalizh). Tak salah, jika setiapkali ada upaya untuk meremehkan atau melemahkan janji pernikahan yang suci itu, apalagi memutuskannya, akan dibenci oleh Allah sebagaimana sabda Rasul, “Sesuatu yang (pada dasarnya) halal tetapi sangat dibenci (atau paling tidak dibenci) Allah adalah talak (perceraian)” (HR. Abu Daud dan Al-Hakim).

Dari pengertian hadits tersebut, jelas bahwa di mata nabi, merusak ikatan “suci pernikahan” tak lebih melakukan pelanggaran gawat karena mengundang  kebencian Allah. Bahkan orang seperti itu, di mata nabi, dianggap tak lagi berhak mendapatkan kemuliaan. Dalam salah satu hadits, nabi bersabda, “Tidak termasuk golongan kami, siapa-siapa yang berupaya merusak hubungan mesra (atau kasih sayang) seorang istri terhadap suaminya.” (HR. Abu Daud dan Nasa`i)

Kendati demikian, Allah SWT memiliki keluasan ilmu dan kebijaksanaan yang tak terbatas. Allah mengetahui bahwa tidak semua perkawinan bisa berlangsung damai, kekal dan abadi sampai salah satu dari pasangan itu dijemput kematian. Tak menutup kemungkinan, seiring berjalannya waktu, ikatan pernikahan itu tak dapat dipertahankan lagi dengan berbagai alasan. Bahkan seandainya pernikahan itu pun dipertahankan, justru akan mendatangkan mudharat yang lebih besar, baik terhadap suami, istri atau sang anak.

Menurut Ibnu Sina dalam buku Asy-Syifa`,  dibukanya jalan keluar untuk bercerai lantaran jika pernikahan itu dilanjutkan, bisa jadi akan mendatangkan madharat yang lebih besar. Tetapi, hal itu dikarenakan ada alasan kuat dan jadi pintu darurat. Pertama, bahwa sebagian manusia memiliki watak dan kebiasaan tertentu yang menjadikannya tidak bisa hidup damai, dan harmonis ketika berdampingan dengan dengan sebagian yang lain. Suami-istri memiliki watak bahkan kebiasaan yang bertentangan sehingga sulit untuk disatukan.

Kedua, di antara sekian banyak manusia ada yang bernasib buruk memperoleh pasangan (suami atau istri) yang tak sepadang atau tidak pandai bergaul, atau memiliki perangai buruk yang senantiasa menimbulkan kebencian, sehingga menimbulkan rasa ketidaksenangan terhadapnya atau keinginan untuk mendapatkan pasangan lain jadi penggantinya.

Kendati demikian, Allah menganjurkan supaya masing-masing pihak (suami atau istri) menahan diri, sebagaimana firman Allah, “… dan pergaulilah mereka (yakni para istri) dengan sebaik-baiknya. Kalaupun kamu adakalanya tidak menyukai mereka (maka bersabarlah) siapa tahu kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang amat banyak  (QS. an-Nisa` [4]: 19).

Dalam sebuah hadits, rasulullah juga bersabda, “Janganlah seseorang mukmin membenci sesorang mukminah. Sekiranya dia tidak menyukai suatu perangai darinya, pastilah ada perangai lain yang disukai darinya.”

Ketiga, alasan keturunan. Adakalanya pula, pasangan suami istri itu tidak berhasil mendapatkan keturunan sementara jika mereka bercerai dan kemudian masing-masing memperoleh pasangan lain, mungkin keadaannya berubah dan berhasil mendapatkan keturunan.

Jadi, solusi cerai adalah karena dalam keadaan darutat atau sebagai pilihan terakhir karena jika pernikahan diteruskan bisa jadi akan mendatangkan madharat.

Memudarnya Sakralitas Pernikahan
Tapi belakangan ini, terlebih di kalangan artis, cerai seakan mudah terjadi. Selain itu, cerai bagai mainan dan tidak lagi dianggap aib. Berita seputar perceraian artis atau selebritis nyaris hampir terjadi tiada henti. Bahkan di kalangan orang-orang yang berpikir modern, perceraian tidak lagi dianggap tabu. Setidaknya, ada beberapa alasan yang bisa dijadikan catatan untuk kasus ini.

Pertama, akibat pergeseran zaman yang memudarkan sakralitas lembaga suci pernikahan. Dengan pergeseran masyarakat menuju materialisme, nilai-nilai luhur seperti kehormatan, kesucian dan kemurniaan yang dianut masyarakat, dianggap sebagai pepesan kosong yang tak lagi berharga. Tidak salah, jika kini lembaga suci perkawinan pun tidak saja dianggap sebagai ikatan yang memenjarakan manusia, melainkan telah digugat sebagai ikatan suci yang sudah ketinggalan zaman dan tak lagi sesuai dengan tuntutan zaman (di era modern sekarang ini).

Dengan melangsungkan pernikahan, seseorang kerapkali dianggap terjerumus ke dalam ikatan atau janji purba yang kelak memenjarakan setiap pasangan sehingga hal itu dianggap tak ubahnya serupa penjara.

Dengan pergeseran sakralitas pernikahan itulah, kini perceraian dianggap tidak lagi sebagai mala petaka, tragedi atau aib yang harus ditutup-tutupi. Tak salah, jika ada artis yang selepas menjalani persidangan (cerai) lantas dengan bangga mengatakan bahwa perceraian telah mengantarkannya menjadi manusia bebas dan tak lagi hidup tertekan. Alhasil, perceraian pun kini tidak lagi dianggap aib. Apalagi, dianggap sesuatu yang dibenci Allah sebagaimana disabdakan nabi dalam sebuah hadits.

Kedua, akibat tuntutan zaman terkait kesetaraan gender. Sekarang ini tidak lagi aneh kalau istri memiliki penghasilan lebih tinggi daripada suami. Persoalan perbedaan gaji itu kemudian menjadi sebuah masalah yang berakhir pada perceraian. Karena gaji yang lebih tinggi itu, menjadikan istri merasa lebih berkuasa dan memiliki kewenangan yang jauh lebih besar dari kekuasan istri-istri pada umumnya yang tak memiliki gaji lebih besar dari sang suami.

Berawal perbedaan gaji itu, ada seorang artis yang menggugat cerai suaminya dan itu sempat diekspos melalui sebuah media televisi. Dalam situasi tertentu, si suami –di mata artis– dianggap hanya numpang hidup dan makan sehingga hal itu dianggap merepotkan, karenanya lebih baik diceraikan saja. Si artis, selaku istri, merasa lebih kaya dan berkuasa di dalam keluarga. Di sini, gaji besar, uang banyak dan materi ternyata telah menjadi petaka dari sebuah pernikahan.

Memang tidak mudah menerima pasangan apa adanya. Tetapi itulah tuntutan dan komitmen dari sebuah ikatan atau akad pernikahan. Sayangnya, komitmen untuk memegang janji teguh dan kokoh pernikahan tidak lagi dipandang sebagai janji yang wajib untuk dipeluk erat-erat di tengah gelombang kehidupan yang penuh ujian dan cobaan. Tak salah, perceraian pun terjadi dan tidak bisa dihindari dan ironisnya kadang tak masuk kategori terpaksa atau darurat sebagaimana yang dibolehkan dalam ajaran agama (Islam).

Padahal, pilihan untuk “mengakhiri pernikahan” dengan perceraian itu memiliki dampak yang tak bisa dianggap sepele  bagi kedua pihak. Setidaknya, baik bagi sang istri maupun suami akan menyimpan sejarah kelam dalam bayang-bayang trauma atau kenangan pahit.

Lebih jauh lagi, akibat perceraian kedua orang tuanya akhirnya anak menjadi korban. Tidak sedikit, anak yang masih kecil hidup dalam ketidaktahuan dan dibesarkan dengan bimbingan satu orangtua. Belum lagi, jika anak harus menjadi rebutan akibat dari perkelahian dan egoisme kedua orangtua yang kadang tidak ada yang mengalah untuk rela dan legowo. Tak pelak, jika perkembangan, pertumbuhan dan masa depan si anak pun bisa terganggu akibat perceraian tersebut.

Lalu, yang jadi pertanyaan adalah; apakah di zaman yang telah menjadikan sakralitas pernikahan memudar dan pecerian gampang terjadi, masih perlukah  pesta pernikahan mewah, megah dan gemerlap di kalangan artis itu dipublikasikan melalui televisi jika besok, lusa atau entah kapan, ternyata perceraian gampang dilaksanakan? Pernikahan yang suci, belakangan ini memang kerap dirusak ketidaksetiaan suami atau istri. Tetapi, akan ironis jika perceraian gampang dilaksanakan, hanya demi alasan yang sepele dan penuh kemunafikan. (n. mursidi)

Jika Mertua Tak bisa Jadi Penutan

2_ss11(sumber Majalah Anggun edisi 2 Sep 2008)

MALAM itu, Budi (30 tahun) hanya bisa tercenung tatkala dia menjumpai bapak mertuanya pulang larut malam. Meski tak sampai membangunkan Budi dan orang yang menghuni rumah, tapi Budi sudah merasa terganggu. Apalagi, hal itu hampir terjadi setiap malam. Maklum, derit pintu yang terbuka, lalu disusul langkah kaki sang mertua memasuki rumah meninggalkan jejak suara di tengah keheningan malam, membuat Budi tidak bisa tidur nyenyak.

Mungkin, Budi bisa menerima atau memahami kondisi bapak mertuanya, jika saja mertua lelaki itu pulang dari menghadiri sebuah acara penting yang tak bisa ditinggalkan. Juga Budi bisa menerima jika ia menjumpai sang mertua lelaki pulang larut malam sekali itu saja, atau malam itu saja. Tetapi, sudah sebulan ini –terhitung seminggu sejak Budi menikahi Ani (25 tahun) lantas tinggal bersama mertua–, Budi nyaris menjumpai mertua lelakinya itu selalu pulang larut malam.

Tidak salah, kalau malam itu Budi kemudian dapat menyimpulkan bahwa  mertua lelakinya ternyata memiliki kebiasaan yang tak baik.  Apalagi usut punya usut, Budi menemukan kenyataan mertuanya pulang sampai selarut itu hanya sekedar kumpul-kumpul dengan tetangga. Lebih dari itu, Budi juga mendengar kabar miring dan tak sedap tentang mertuanya yang membuat dia merasa tak enak. Praktis, malam itu Budi termenung manatap langit-langit.

Kedudukan Mertua
Jauh-jauh hari sebelum Budi memutuskan untuk menikahi Ani, ia memang nyaris tidak pernah membayangkan kalau kelak dia akan memiliki mertua lelaki yang jauh dari bayangannya. Maklum, Budi kenal Ani tidak cukup lama, sekitar 3 bulan dan setelah keduanya merasa cocok, lalu memutuskan untuk menikah. Jadi, Budi sama sekali tidak kenal jauh dengan mertua lelakinya. Wajar, hal itu di luar dugaan Budi.

Memang setiap menantu –tak hanya Budi— pasti mengharapkan punya mertua lelaki yang bisa jadi pembimbing, tauladan dan tempat untuk bertanya. Apalagi, Budi memiliki ayah yang dia identifikasikan sebagai sosok yang bisa jadi panutan. Ayahnya terpandang, juga bisa diandalkan untuk membimbing.

Tetapi, bagiamana kalau harapan menantu (sebagaimana kasus Budi di atas) ternyata jauh panggang dari api karena setelah menikah dan mengenal lebih jauh mertua (lelaki), justru si menantu bukannya menjumpai mertua yang bisa jadi tauladan, pembimbing, dan pengayom, melainkan justru sebaliknya?

Kedudukan mertua memang tak ubahnya seperti orangtua. Kedudukan itu tak lain sebagai imbas dari buah pernikahan. Karena setiap ikatan pernikihan membawa konsekuensi lahirnya sebuah hubungan kekerabatan yang lebih luas (mushaharah). Saat seorang lelaki menikahi seorang perempuan, maka lelaki itu tak semata menikah dengan pasangannya. Setelah nikah, maka habis perkara  seakan dunia hanya milik berdua atau hanya ditinggali berdua. Padahal, ikatan pernikahan melahirkan hubungan lebih luas dan dunia pernikahan tidak hanya menjembatani hubungan suami-istri dalam ikatan yang sempit tapi membuka cakrawala lebih luas dengan melahirkan keluarga baru lantaran keluarga pihak perempuan itu kemudian akan masuk menjadi keluarga pihak lelaki.

Dari konteks hubungan keluarga luas itu, dapat dipahami jika kemudian orangtua si perempuan jadi orangtua si lelaki -disebut mertua. Maklum, karena pernikahan itu tak sekadar hubungan antara istri-suami, tapi juga membangun horison keluarga dan tali silaturahim umat manusia lebih luas. Wajar, kedudukan mertua tak ubahnya seperti orangtua sendiri. Orangtua lelaki akan jadi mertua si perempuan. Sebaliknya, orangtua si perempuan juga akan menjadi mertua si laki-laki.

Pendek kata, mertua itu adalah orangtua kedua. Mertua itu adalah wakil orangtua yang bisa jadi panutan, tauladan dan bahkan sosok yang seharusnya hadir menggantikan kedudukan orangtua untuk ditiru/diteladani. Maka, setiap suami-istri pasti menghendaki memiliki mertua yang bisa mewakili orangtuanya. Pasangan suami-istri mendamba punya mertua, setidaknya tidak jauh dengan orangtua yang dulu melahirkan, membesarkan dan mengantarkan dia menjadi manusia dewasa yang kemudian menikah.

Logis, kalau setiap pasangan yang baru menikah mendambakan punya mertua yang bisa jadi pembimbing. Karena setiap pasangan (suami-istri) pasti melihat jauh sosok mertua tak ubahnya orangtua yang bisa menjadi tauladan. Dari kedudukan itu, mertua akan mendapat tempat layak untuk dihormati. Sang menantu meneladani mertua sebagaimana dia menghormati orangtua sendiri.

Kenapa? Karena, mertua pasangan Anda, dulu adalah orang yang telah berjasa membesarkan, menyanyangi dan mencintai pasangan Anda. Wajar jika pasangan Anda akan mengharap Anda menghormati mertua –sebagaimana pasangan Anda menghormatinya.

Tapi, harapan itu tak jarang berbenturan dengan adanya latar belakang, adat istiadat, tradisi, dan nilai-nilai keluarga masing-masing pasangan. Karena itu, masa awal pernikahan, kerapkali masing-masing pasangan terbentur kondisi yang memaksa saling beradaptasi. Hal itu, tidak dapat dihindari karena setiap pasangan lahir dari dua lingkungan keluarga yang berbeda apalagi ditambah andanya perbedaan tradisi, adat bahkan latar belakang pendidikan keluarga.

Benturan itu jelas membawa konsekuensi logis setiap pasangan suami-sitri kemudian berusaha saling memahami. Tak dapat dihindari, adaptasi suami dan istri pun jadi jalan damai untuk dikompromikan. Apalagi, masing-masing pihak membawa pengaruh kuat dari kehidupan keluarga baik pengaruh yang berupa kebiasaan pribadi yang telah membentuk pola hidup maupun pengaruh aturan yang diberlakukan dalam keluarga sebelum menikah yang sering tidak disadari membangun karakter, sifat, pola dan cara pandang seseorang melihat hidup.

Mungkin jalan damai itu tidak sulit untuk dikompromikan pasangan suami-istri selama ada cinta, kasih sayang serta tahu posisi masing-masing. Kenapa? Karena kedudukan suami-istri sejajar. Tapi, bagaimana kalau benturan itu terjadi justru antara menantu (lelaki) dan mertua (lelaki)?

Jelas benturan itu tak saja akan membawa hubungan yang tak harmonis antara menantu dengan mertua, tapi bisa-bisa merusak hubungan baik suami-istri. Pada masa awal perkenalan setelah menikah, tak jarang benturan itu jadi kendala. Apalagi jika menantu hidup menumpang di rumah mertua, praktis pada masa itulah, karakter sejati menantu maupun mertua mulai bisa dikenali. Proses adaptasi terhadap kebiasaan-kebiasaan dari menantu dan mertua bisa muncul dengan telanjang.

Lalu, apa jadinya jika mertua yang seharusnya bisa menjadi teladan dan pembimbing ternyata dijumpai oleh menantu justru sebaliknya. Sang menantu –seperti Budi—yang mendambakan memiliki mertua bisa menjadi tauladan, justru harus kecewa lantaran ia menjumpai mertua ternyata tak bisa jadi taudalan?

Jembatan Menyelesaikan Masalah
Masa awal pernikahan memang menjadi masa perkenalan karakter dan kebiasaan. Perkenalan itu tak saja terjadi antara suami-istri, melainkan menantu-mertua. Celakanya, jika perkenalan karakter dan kebiasaan itu terjadi antara menantu lelaki yang mendamba sosok mertua idaman ternyata tak menjumpai sosok mertua yang selama ini didambakan bisa jadi tauladan.

Mungkin, jika menantu tidak tinggal bersama mertua, persoalan akan jadi lain. Tapi bagaimana kalau menantu tinggal di rumah mertua? Jelas hal itu bisa runyam bahkan bisa-bisa “merusak hubungan” suami-istri yang harmonis. Tentu, menantu lelaki yang cerdas seharusnya bisa berpikir tak menjadikan kebiasaan buruk mertua lelaki itu jadi lebih runyam. Maka, ada beberapa cara yang dapat ditempuh menantu lelaki agar hubungannya dengan mertua lelaki, tak sampai runyam hanya gara-gara mertua lelaki tidak bisa jadi teladan atau panutan:

Pertama, menantu berusaha untuk menerima dengan ikhlas keadaan si mertua. Pasalnya, tak seharusnya menantu membenci bapak mertua. Tidak ada salahnya juga, ia tetap mencintai bapak mertua dengan ikhlas, karena dari rasa cinta itu, tidak menutup kemungkinan, bisa jadi membuat menantu memahami dan menerima keadaan tanpa harus menjadikan masalah semakin runyam.

Kedua, sekalipun bapak mertua memiliki kebiasaan buruk karena di mata menantu, mertua tak bisa dijadikan panutan, tetap tak menjadikan kelemahan itu menutupi semua kebaikan bapak mertua. Sebab itu, jangan tutup hati lantas membenci mati-matian kedapa bapak mertua. Hargai dan hormati mertua laki-laki, karena ia adalah orangtua sang istri. Jika mungkin, tunjukkan pada mertua bahwa Anda menantu yang baik yang bisa membuat sang mertua justru segan dan sopan terhadap Anda.

Ketiga, jika menantu menjumpai dalam sosok mertua lelaki ternyata ada hal-hal yang tidak sepaham, tidak harus kemudian memprotes dengan lantang, dan sok benar. Maka, sampaikanlah dengan sopan, lembut dan tetap menaruh rasa hormat.

Mungkin yang perlu diperhatikan, karena posisi menantu sebagai orang yang lebih muda dan sebagai anak, jalan atau cara menyampaikan nasehat itu tidak perlu dengan berhadapan langsung. Tak ada salahnya, jika menantu menjadikan istri jadi jembatan untuk menyampaikan kepada sang mertua lelaki bahwa selama ini kebiasaan mertua itu tidak baik dan menantu menghendaki mertua yang bisa jadi panutan. Selain melalui istri, dapat pula sang menantu itu menyampaikan lewat orang lain; paman, kakek atau prang lain yang selama ini disegani oleh sang mertua lelaki.

Keempat, tidak ada salahnya menantu tetap menahan diri, lebih sabar dan rela menerima keadaan. Karena jika menantu itu tidak mampu mengubah kebiasaan orang lain (mertua), menantu setidaknya harus mengubah diri sendir; agar bisa lebih sabar dan legowo. Dengan begitu, sebagai menantu yang baik, rendah hati, sabar, mengakui, bahkan menerima kekurangan-kekurangan dari si mertua, siapa tahu hal itu membuat si mertua jadi segan dan sopan terhadap Anda sebagai menantu, syukur-syukur jika kemudian mertua lelaki itu bisa sadar. (n. mursidi)

perempuan yang menjadi ayah

2_dsc_0394Cerpen ini dimuat di Sinar Harapan, Sabtu 13 April 2005

SELALU disergap ngilu, setiap kali aku pulang ke rumah. Saat tiba di depan rumah, sebelum bergegas masuk ataupun tatkala sejenak berdiri di pintu pagar, nyaris membuat langkah kakiku berat untuk memasuki dengan beringas. Apalagi, setelah kulewati pintu pagar serta mengedarkan pandang ke halaman, aku terperangkap masa laluku. Sebuah masa saat aku masih kecil, bermain di halaman, memanjat pohon mangga besar yang berdiri kokoh di depan rumah dan juga kenangan saat pulang sekolah. Kenangan itu, masih tetap tinggal dalam ingatan. Membekas dalam rajut waktu yang sudah lalu, namun tak juga kunjung terlupakan.

Untuk itu, aku tak segera mengetuk pintu. Berdiri lama, mematung di depan rumah, mataku terperangkap secuil halaman yang merana. Rumah tua yang sudah condong dengan cat putih yang mengelupas di sana-sini. Mataku berair saat pendar mataku menukik tanah bebatuan dan rumput kering di halaman. Ya, sebuah rumah yang tak berubah sejak kutinggalkan tiga tahun yang lalu. Rumah yang penuh dengan nyenyat diam, sejak ayah jatuh sakit.
Ya, jika bukan karena bunda yang selalu mengingatkanku untuk pulang, mungkin aku tak segera memasuki. Hanya bunda-lah yang memaksa langkah kakiku segera bergegas. Membuka pintu dengan pelan karena aku tahu, rumah itu sudah sunyi sejak kepergianku. Lalu, seperti kepulanganku yang sudah-sudah, bunda selalu terkejut setiap kali melihat aku sudah berdiri di depan pintu.
“Kenapa kau seperti lupa dengan rumahmu?” Seperti kepulanganku yang lalu, bunda, memang selalu menanyakan rasa engganku untuk pulang. Karena aku jarang pulang bahkan saat Lebaran sekali pun.
“Sibuk terus, bunda!” Aku menjawab sekenanya, karena aku pikir rumah itu memang tak lagi penuh dengan canda tawa. Malahan, aku tak mencium tangan bunda. Kepulangan seorang anak yang tak seperti kepulangan dari tanah rantau yang jauh. Ya, kepulanganku ke rumah sejak kepergianku tiga tahun yang lalu, memang tidak ubahnya seperti kepergianku tadi pagi, entah pergi ke mana. Tak perlu ada percakapan dan cerita karena memang rumah itu sudah menjadi sunyi, nyenyat dan diam. Rumah yang tidak saja hampir roboh, namun juga sudah tidak ada percakapan yang bisa mendamaikan.
Bagaimana tidak? Ayah, tidak bisa lagi bekerja sejak sakit mengoyak jantungnya. Ia, hanya berdiam diri di kursi goyang dengan sedikit kesibukan tak berarti, membaca koran bekas, karena ayah memang tak lagi mampu membeli koran. Selain itu, ayahku cuma terdiam dengan khusuk mendengarkan radio tua, yang kutahu lebih tua dari usiaku. Sebab kutahu, radio itu sudah bercokol di meja dekat kursi tempat ayah membaca dan menghabiskan hari-hari tuanya yang menyakitkan. Mungkin ayah tidak pernah membayangkan akan jatuh sakit ketika aku, kakakku dan adikku butuh biaya kuliah. Tapi, rupanya itu kenyataan yang menambah siksanya. Ia terserang lemah jantung, komplikasi berbagai penyakit tua dan juga rasa bersalah.
Untuk itu, kuyakin kalau ayah sakit karena terlalu memikirkan ketiga anaknya yang butuh biaya banyak, sementara ia tidak mampu dengan fisik yang sudah digerogoti berbagai penyakit. Belum lagi, sejak ayah pulang dari tanah suci, usaha pakaian ayah yang kutahu dulu begitu maju, semakin merosot. Ayah hanya bisa berjalan-jalan di pagi hari untuk sekadar menjaga kondisi tubuh, dan selebihnya, berdiam diri di kursi goyang. Menatap senja di langit, saat hari sudah mulai gelap.
Sebuah rumah yang tak banyak percakapan, juga ketika aku berjalan ke tempat ayah, yang berdiam diri di atas kursi goyang untuk menyodorkan koran baru. Melihatku, ayah hanya bertanya, “Ada apa pulang?”
Selalu ada rasa berat bagiku untuk menjawab setiap pertanyaan ayah. Entah kenapa, ayah selalu tahu bahwa setiap kali aku pulang, pasti ada saja urusan penting. Dan itu memang benar!
“Aku pulang karena mau memperpanjang KTP”.
Aku menjawab dengan seadanya. Tak juga selalu ada percakapan lebih, dan itulah rumah yang sudah kutinggalkan tiga tahun yang lalu. Sepi cerita. Hanya suara radio lirih di dekat ayah yang merona di daun telingaku, sebelum aku bergegas ke belakang. Mandi.
Lalu, malam berlalu …
***
SELALU disergap ngilu setiap kali aku pulang ke rumah. Melihat wajah tua ayah yang sudah keriput saat sinar senja menerobos dari celah jendela di hari kedua kepulanganku. Aku hanya bisa mengelus dada. Bagaimana tidak? Pagi tadi, saat subuh merekah, bunda sudah berangkat ke pasar menggantikan usaha ayah berdagang pakaian. Padahal, kerja macam itu cukuplah berat untuk bunda. Meski bunda masih dibantu kuli untuk sekadar mengangkut barang dagangan tapi bunda juga masih harus membuka bungkus balutan terpal, sebelum barang-barang itu didagangkan.
Aku tahu semua itu, karena dulu sebelum aku berangkat ke kota, aku juga sering ke pasar menyusul ayah untuk membantu. Kini, bunda hanya seorang diri tak ada yang membantu. Ayah sudah tak lagi kuat melakukan kerja seperti itu di pagi buta dengan berangkat menaiki mikrolet tua sambil membawa barang dagangan. Aku bisa membayangkan bagaimana penderitaan bunda sejak ayah jatuh sakit dan semua itu harus ditanggung sendiri oleh bunda untuk mengirimi aku, adikku dan kakakku meski tidak seberapa besar jumlahnya.
Aku tak pernah tahu dari mana bunda bisa mampu mengirimi uang kuliah untuk kami. Sebab, jika hanya mengandalkan hasil jualan pakaian, jelas saja itu tak cukup. Seberapa besar laba yang diperoleh bunda dari hasil dagangan untuk seorang pedagang kaki lima? Berapa besar biaya kuliah kami, anak-anak bunda yang berjumlah tiga, meski semuanya mendapatkan beasiswa? Tetapi bunda tak pernah mengeluh. Bunda malah selalu berpesan pada kami untuk kuliah yang sungguh-sungguh sebab hanya itu yang bisa dia harapkan dari kami. Ya, bunda hanya ingin kami menjadi orang!
Untuk itu, aku jarang pulang ke rumah. Apalagi sejak mendengar kabar kalau ayah tidak lagi kambuh meski tak lagi bisa bekerja seperti dulu lagi. Ayah hanya menghabiskan waktu di rumah dan sejak bunda bekerja di pasar, ayah –yang tak lagi sakit-sakitan meski tak mampu bekerja kuat– lalu menggantikan tugas bunda. Ayah mulai bisa memasak, mencuci piring dan kadang juga menyapu lantai dan membersihkan rumah.
Baru saat siang tiba, bunda pulang. Ayahku sudah makan duluan ketika bunda tiba di rumah. Kebiasaan itu tak saja kulihat sejak aku pergi merantau di kota atau sejak ayah jatuh sakit. Bahkan kebiasaan makan bersama di rumah kami, memang sudah sejak dulu tidak pernah ada. Tak ada meja makan dan canda tawa bersama saat makan bersama di pagi hari, siang ataupun malam. Mungkin, karena itu rumah kami nyaris nyenyat percakapan. Bukankah sebuah percakapan selalu dimulai dari obrolan di meja makan dan rapat sebuah perusahaan selalu dilakukan dengan acara makan bersama di sebuah restoran untuk menghasilkan keputusan penting?
Tapi rumah kami memang bukan perusahaan. Rumah yang sepi dari banyak percakapan, hanya nyaring radio di dekat ayah, yang sering aku dengar hingga sore tiba. Aku yang duduk di ruang tengah, hanya bisa menatap wajah ayah di saat senja berbias dengan muram. Sebuah wajah, yang sudah tua dengan keriput di pipi. Sebuah wajah yang memikirkan masa depan kami dan tak tahu berbuat apa karena ketuaan telah membuatnya tak bisa berbuat apa-apa, kecuali hanya menatap langit untuk mendoakan masa depan kami…
Lalu, malam berlalu dan rumah kami selalu tidak ada percakapan lebih untuk urusan yang tidak penting.
***
SELALU disergap ngilu, setiap kali aku pulang ke rumah. Untuk itulah aku selalu tak betah tinggal lama untuk sekedar menghabiskan masa liburan. Apalagi, jika aku harus membandingkan bunda dengan ayah, maka aku tak lebih dari anak durhaka. Aku seorang lelaki, kenapa membenci ayah? Apa salah ayah sehingga aku sampai tak simpati? Juga, kenapa rumah kami sepi percakapan dan bunda harus mengganti perankan ayah bekerja.
Aku sudah tak lagi betah melihat semua itu di depan mata. Pada hari ketiga kepulanganku itulah, aku memutuskan untuk kembali ke kota. Apalagi, urusan perpanjangan KTP sudah beres. Tidak ada yang membuatku harus tinggal lebih lama. Aku tidak ingin mataku berair. Seperti pulangku yang selalu membuat bunda terkejut, kepergianku juga selalu membuat bunda terperanjat. Saat aku pamit bunda hanya berpesan, “Pergilah ke mana kaki membawamu pulang karena rumah ini adalah rumahmu!”
Aku menggangguk. Tak mencium tangan bunda, karena kepergianku kali ini juga tak ubahnya kepergianku di pagi hari, saat aku kecil dulu tatkala main di halaman maupun di lapangan.
Lalu aku melintasi kursi goyang ayah untuk pamitan, “Kami, anak-anak ayah, semuanya hanya berharap ayah baik-baik dan kami tak berharap dari ayah kecuali doa untuk keberhasilan kami!”
Ayah hanya diam. Karena hanya itu yang ia bisa lakukan…
Kuangkat tas ransel, kupasang dipunggung, untuk selanjutnya bergegas pergi, meninggalkan rumah, yang tidak lagi penuh canda tawa, tidak banyak percakapan yang bisa membahagiakan. Bunda serta ayah hanya mengantar sampai di pintu, dan aku bergegas meninggalkan rumah, tak lagi berdiri sejenak di pintu pagar yang sudah menua, yang nyaris membuat langkah kaki seperti berat untuk pergi dengan beringas.
Setelah kulewati pintu pagar dan mengedarkan pandang ke halaman, aku memang terperangkap masa lalu. Sebuah masa saat aku masih kecil, bermain di halaman, memanjat pohon mangga besar yang berdiri kokoh di depan rumah dan juga kenangan saat pulang sekolah. Kini, kenangan itu masih tinggal dalam ingatan. Membekas dalam rajut waktu yang sudah lama berlalu, namun tak juga kunjung terlupakan.

Apalagi saat aku harus melambaikan tangan untuk bunda yang mengantar kepergianku saat berangkat ke sekolah sewaktu masih kecil dulu, kini aku tak melihat semua itu lagi, kecuali ada seberkas sinar keperakan di mata bunda, perempuan yang menjadi ayah, yang membuatku kenapa tiba-tiba menjadi rindu untuk pulang, padahal aku belum sepenuhnya bergegas pergi.***

Cerita untuk bunda, di Lasem
Yogyakarta, 2004

buku; sepotong cinta untuk ibu

100_4851Ada suatu masa, di mana Anda harus membuat keputusan. Ada suatu zaman, di mana Anda harus meninggalkan apa yang selama ini Anda rintis. Juga ada suatu keadaan, di mana Anda harus “berani” mengambil jalan yang Anda yakini. Bahkan ada suatu momen, di mana Anda harus “berhenti melangkah” tetapi selanjutnya melompat lebih jauh ke depan. Masa, zaman, moment dan keadaan itulah yang kini sedang melilit di pinggangku. Aku pun –mau tidak mau– harus melompat ke depan, meninggalkan apa yang selama ini aku gumuli untuk menyambut sinar mentari yang akan terbit esok hari

Kini, keputusan itu sudah aku buat! Kini, aku sudah melompat meskipun baru di tepi jurang yang menganga lebar. Kini, aku sudah menikam moment yang bisa membuatku berhenti melangkah tetapi aku tidak duduk di atas batu besar yang menentramkan. Kini aku hidup di “sebuah masa” di mana aku tidak lagi masih menghuni kepompong lama; aku ingin menulis genre lain dalam bentuk novel ataupun skenario.

Sebulan ini, boleh dikata aku nyaris tak menulis resensi. Jika masih menulis resensi, itu pun tak lain hanya memenuhi pesanan dan permintaan dari beberapa teman. Dengan keputusan ini, aku meninggalkan meja resensi dan kemudian beralih sekolah. Aku sebut “peralihan” karena memang mirip jenjang di sekolah. Aku sudah lulus. Tidak ada lagi tantangan di depanku. Maka mau tidak mau, aku harus melanjutkan sekolah –mencoba menekuni genre lain.

Malam ini, waktu aku menulis catatan ini, aku ditikam kesunyian. Aku sendiri dalam remang kegalauan yang runyam bahkan mendebarkan. Dalam debar malam, ternyata ada satu momen yang membuat aku teringat masa kecilku, dan terkenang masa remaja yang nakal -di mana aku tak pernah menyangka bisa seperti sekarang ini. Aku tersedak tatkala mengingat masa laluku. Aku bertanya-tanya, apakah dulu ibu melahirkanku untuk satu harapan bahwa kelak aku akan menjadi penulis?

Ah, sebenarnya bukan soal itu yang ingin aku tanyakan pada ibuku. Aku ingin bertanya pada ibu tentang satu hal terkait dengan masa laluku setelah aku ingat bahwa pada hari ini adalah hari ulang tahunku. Maka, aku telpon ibu, lalu bertanya satu hal, “Ibu, benarkah ibu dulu melahirkanku pada tanggal yang sama di mana hari ini aku masih bisa menghirup udara?”

Ibuku terdiam. Mungkin, ibu mengingat masa-masa ketika beliau harus berjuang sampai darah titik penghabisan. Lama. Waktu seperti dihimpit senyap. Kami diam seperti tidak saling kenal atau tidak pernah berjumpa. “Anakku, kenapa kamu tanyakan hal itu?” tanya ibuku dengan suara bergetar. “Nak, aku lupa kapan kamu lahir, tapi satu hal yang tidak akan pernah aku lupakan bahwa aku tidak lupa mencintaimu sepanjang hidupku!”

Deggg! Jantungku seperti disambar petir. Mungkin aku salah bertanya pada ibuku yang sudah dimakan usia, dan tidak peduli dengan sakralitas ulang tahun –apalagi di tengah keluargaku tidak ada “adat yang disebut merayakan ulang tahun”. Seketika, aku berpikir; jika ibu telah menuliskan perasaan cinta sepanjang hidunya dalam tetesan hujan, lalu apa yang bisa aku balas?

Hampir lima tahun bekerja dan setiap kali dapat gaji, aku sisihkan buat ibu. Tapi, apakah semua itu cukup untuk membayar cinta ibuku? Aku pikir, sampai meninggal pun aku tidak akan pernah sanggup membayar jerih payah ibuku. Maka malam ini aku memutuskan untuk memberikan “sebuah kenangan untuk membalas ibu sesuai dengan kemampuanku; aku ingin menulis untuk ibuku sebagai bentuk terima kasihku sebagai penulis. Tak ada yang lain!

Keputusan ini aku ambil, ketika aku berada dalam suatu tempat yang sunyi, sepi dan bahkan sendirian “merenungi ulang tahunku”. Di saat aku berjuang menyelasaikan tulisan ini, tiba-tiba hp-ku berdering. Aku tahu, siapa yang menelponku malam ini –ia adalah perempuan yang pernah aku cintai delapan tahun yang lalu. Dalam hening itu, ia mengucapkan selamat ulang tahun. Aku pikir ia sudah lupa padaku. Eh, ternyata ia masih ingat bahkan ingat ulang tahunku. Lebih dari itu, ia memintaku untuk menemui ayahnya jika aku benar-benar ingin menikahinya. Aku tidak memungkiri jika dia telah banyak memberiku inspirasi dalam menulis. Memang tidak sedikit perempuan yang memberiku inspirasi dalam menulis, tetapi ia menduduki tempat yang istimewa.

Sehabis dia menelpon, aku menyalakan lilin -sebuah lilin kehidupan yang tidak akan pernah aku tiup sepanjang masa. Sebuah lilin yang aku tahu akan jadi energi besar dalam proses kreatifku ke depan. ***

Kado buat ulang tahunku
Ciputat, 30 Februari 2009